Monografi Desa Depaha
Penamaan Desa Depeha diambil dari kata dipa
yang artinya sinar. Diceritakan masyarakat desa
kalih likur pindah ke suatu tempat dengan mengikuti
sebuah sinar yang berasal dari Pura Dalem purwa.
Selain itu, kata dipa, juga diambil untuk mengenang
salah satu raja Bali yang bernama Suradipa. Kala
itu raja Suradipa bertapa di puncak Bukit Sinunggal
sampai ajak menjemput. Untuk mengenang beliau,
desa/kerajaan Indrapura diberi nama Desa/
Kerajaan Dipa menjadi Depaa dan sekarang
menjadi Depeha .
Kesenian yang ada di desa Depeha yang
dituturkan oleh para informan bahwa Desa Depaha
memiliki kesenian-kesenian sacral dan gamelan yang
dipakai untuk mengiringi upacara/ritual keagamaan,
seperti misalnya tari Gambuh, Tari Sanghyang, Tari
Baris Gede, tari Baris Tamiyang, Baris Jojor, Baris
Dadap, Baris Omang, Tari Leko, dan tari Gandrung.
Desa Depeha merupakan desa yang terdiri dari
perkumpulan kerama Bali yang dalam melaksanakan
aktivitas keagamaannya berdasarkan agama Hindu.
Pelaksanaan agama Hindu dilakukan berdasarkan
tata aturan adat, sima dresta, desa kala patra, desa
mawecara. Semuanya itu dilandasi oleh tiga
kerangkan agama hindu, yaitu: filsafat, etika, dan
upacara yang implementasinya terlihat dalam
pelaksanaan Tri Hita Karana, yaitu; Parhyangan,
Pawongan, dan Palemahan.
Kegiatan pakraman di desa Depeha dipimpin
oleh Kelian Desa Adat dan dibantu oleh prajuru Desa
yang lain, seperti petajuh (wakil), penyarikan (juru
tulis), petengen (bendahara), dan kelian tempek
yang dibantu oleh kasinoman (juru arah),
sedangkan dalam pelaksanaan upacara ritual
dipimpin oleh penghulu adat. Secara terstruktur para
penghulu desa adat disebut Dulu Desa (Hulu Desa).
Yang berjumlah 22 orang yang disebut Desa Kalih
Likur, desa kalih likur itulah sebagai pemimpin
kegiatan upacara yadnya di Desa Depeha.
Dalam pelaksanaan upacara yadnya, umat
Hindu di Desa Depeha percaya terhadap satu Tuhan
dalam tiga perwujudanNya, yaitu; Brahma (Pura
Desa), Visnu (Pura Puseh), Siva (Pura Dalem).
Disamping itu, masyarakat juga mempercayai
adanya kekuatan-kekuatan gaib yang ikut menjaga
kelestarian desa mereka. Mereka percaya dengan
adanya leluhur, babi duwe, dewi Danu, sehingga dari
kepercayaannya itu dibuatkanlah tempat untuk
persembahan, selain Pura-pua yang ada di Desa
Depeha seperti Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem,
terdapat juga pura-pura lain seperti Pura Kawitan,
Pura Tirta Maji, Pura Banua (Sang Kumpi), Pura
Sang jero, Pura Bukit Tunggal, Pura Mas. Selain itu,
terdapat juga pura-pura yang dipakai memuja
dewa-dewi, seperti Dewi Sri yang dipercaya sebagai
Dewi Kemakmuran. Pura-pura tersebut adalah Pura
Subak Abian, Pura Tumpuk sari, Pura Tumpuk Kelod,
Pura Sanglung, Pura Beji,Pura Batungadeg,Pura Madya Pengubugan dan Pura Tamansari.
Selasa, 07 Oktober 2014
Blog pertama saya
Hai sobat,
Saya budi puspa baru belajar bikin blog nantinya mungkin saya pakai untuk bikir tulisan sendiri, ini adalah tulisan uji coba nanti kalo ada kalimat kurang benar maklum saya ktik via hanpho yg baru saya beli merknya samsung galaxy grand 2
Mungkin cukup sekian dulu nanti deh saya poskan lagi unek unek saya heee๐๐
Oh saya dah dulu
Saya budi puspa baru belajar bikin blog nantinya mungkin saya pakai untuk bikir tulisan sendiri, ini adalah tulisan uji coba nanti kalo ada kalimat kurang benar maklum saya ktik via hanpho yg baru saya beli merknya samsung galaxy grand 2
Mungkin cukup sekian dulu nanti deh saya poskan lagi unek unek saya heee๐๐
Oh saya dah dulu
Langganan:
Komentar (Atom)